Profil SMK


Sejarah Awal Mere Prieure Klemence Koch adalah seorang Biarawati yang memulai langkah pertama ketika beliau memimpin SKKP "Mater Dei" yang dibuka pada tahun 1933 oleh Komunitas Biarawati Ursulin di Jalan Ir. H. Juanda 29 Jakarta, serentak dengan SMP St. Maria di Jl. Batu Tulis Raya No. 31, Jakarta Pusat. Sesuai dengan namanya, SKKP (Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama) dan jamannya, tentu saja sekolah ini ditujukan khusus bagi remaja putri yang ingin belajar berbagai macam keterampilan kewanitaan.

Pada tahun 1971 dengan alasan bahwa Yayasan Nitya Bhakti telah memiliki SKKP dan bahwa sekolah ini membutuhkan jenjang pendidikan tingkat lanjutan serta adanya dorongan dari Uskup Agung Jakarta waktu itu, didirikanlah SKKA (Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas) Santa Maria. Langkah-langkah awal SKKA ini dipersiapkan oleh Sr. Constance,OSU sebagai Ketua Yayasan Nitya Bhakti bersama Sr. Wenceslaus, OSU yang waktu itu menjabat sebagai Kepala SKKP. Murid yang mendaftar sejumlah 120 orang dan dibagi dalam tiga ruang kelas. Perkembangan SKKA, baik renovasi gedung, pengadaan sarana kegiatan belajar mengajar (buku-buku dan peralatan praktik) maupun pertambahan jumlah muridnya sangat terasa dalam kurun waktu lima tahun pertama. Namun demikian, karena tidak lagi sesuai dengan perkembangan pendidikan untuk sekolah kejuruan pertama, maka SKKP ditutup oleh pemerintah. Sedangkan SKKA masih berlanjut, khusus bagi siswi.

Atas anjuran Departemen Pendidikan Kebudayaan yang telah meluncurkan kurikulum baru pada tahun 1977 nama SKKA secara resmi berubah menjadi SMKK (Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga). Pada masanya, SMKK St. Maria adalah satu-satunya Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluaga "berbendera" Katolik yang ada di Keuskupan Agung Jakarta. Mengikuti perubahan kurikulum pendidikan 1984, SMKK St. Maria melaksanakan pendidikan dalam jalur Rumpun Kesejahteraan Keluarga dengan dua jurusan, yaitu Penataan Pakaian atau Rumpun Busana dengan Program Studi Busana Butik dan Jurusan Penataan Makanan dengan Progran Studi Jasa Boga.

Pada fase ini SMKK juga sudah terbuka bagi murid putra. Tiga murid putra pertama masuk pada tahun ajaran 1990. Dua orang murid untuk Tata Busana dan seorang murid untuk Tata Boga. Seiring dengan terbukanya wawasan globalisasi dalam segala bidang, dan secara khusus menjawab tuntutan perkembangan industri pariwisata di Tanah Air, SMKK Santa Maria pun bermutasi dari Rumpun Kesejahteraan Keluarga ke Rumpun Pariwisata, dengan orientasi "Link and Match" yang mewarnai Kurikulum Pendidikan yang baru pada tahun 1994 dengan tujuan menciptakan calon-calon tenaga kerja profesional dan produktif di tengah masyarakat. Sejak itu, SMKK Santa Maria dengan 'baju baru'nya, SMK Kelompok Pariwisata, semakin memperkaya kegiatan belajar mengajar intra kurikulernya dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang mendukung, antara lain : Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, Seni dan Olah Raga. Tujuannya adalah agar lulusannya memiliki kemampuan yang relatif bervariasi namun saling mendukung sebagai bekal memasuki dunia kerja.

Pasang surut jumlah murid dari tahun ke tahun mulai terasa. Sebagai sekolah kejuruan dengan 9 ruang belajar, 4 unit ruang praktik boga (dapur) dan 3 unit ruang praktik busana serta fasilitas belajar yang relatif lengkap. Namun seiring perkembangan jaman, SMK Santa Maria pun selalu berusaha untuk meningkatkan fasilitas yang ada.